Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang - John D.Rockefeller

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Suami Playboy?? gimana solusinya.....


Ibu Rieny yang baik,Saya Talia (37), sempat ikut workshop tentang perselingkuhan di Klub NOVA awal tahun 2000. Saya sangat terkesan dan merasakan banyak manfaatnya. Sayang, waktunya terbatas. Seperti janji Ibu yang akan tetap berhubungan dengan peserta workshop, saya merasa mendapat dukungan dan atensi dari Ibu selama ini. Terima kasih ya, Bu. Ulang tahun saya pun Ibu ingat, lho. I am so happy, Bu.

Saya menikah 12 tahun lalu dengan T, teman kuliah setelah berpacaran selama 3 tahun, dan kini punya seorang anak laki-laki (10).

Saat baru masuk kuliah, suami mendekati saya. Tapi selama ‘PDKT’, suami sempat dekat dengan beberapa teman kuliahnya. Setahu saya, mereka hanya bersahabat, karena masing-masing sudah punya pacar.

Ternyata bagi mereka, suami adalah orang yang asyik diajak curhat. Bagi yang tak kenal suami secara dekat pasti akan mengira mereka pacaran saking akrabnya. Aneh dan lucunya, begitu kami pacaran, para wanita itu jadi ‘aneh’ sikapnya terhadap saya.

Di akhir masa kuliah, saya bekerja dengan gaji lumayan besar. Sementara suami sempat lama menganggur. Ia lalu bekerja di RS swasta sebelum bekerja di satu rumah produksi sampai kini.

Berhubung dulu kehamilan saya bermasalah, akhirnya saya memutuskan keluar kerja. Rencana kembali bekerja tertunda terus sampai kini. Saya tak pernah menyesali karena toh bisa mendampingi anak, yang alhamdulillah berprestasi di sekolahnya.

Kami masih tinggal di rumah orangtua saya. Keluarga saya termasuk golongan ekonomi menengah, tak kekurangan tapi juga tidak mewah. Saya dan keluarga akrab satu sama lain. Berbeda dengan suami yang bungsu dari 3 bersaudara.

Suami tak akrab dengan keluarganya, cenderung jauh dan kaku. Ia hanya dekat dengan ibunya yang ia jadikan idola karena bisa survive menghidupi keluarga sejak ayahnya kehilangan pekerjaan.

Sejak bekerja, suami selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk orangtuanya. Jumlahnya cukup besar. Saya ikhlas, Bu. Sementara untuk saya, suami selalu menjatah uang bulanan dari gajinya yang tak besar itu, sebagian lagi ia tabung.

Saya tak pernah mengeluhkan besarnya uang yang saya terima, yang penting cukup untuk makan dan keperluan sekolah anak. Saya sudah tahu resiko ini sejak memutuskan tak bekerja lagi.

Suami memang ‘pelit’ Bu. Selama menikah, baru sekali ia mengajak saya dan anak liburan, itu pun cuma ke Bandung. Yang cukup berat adalah perilakunya yang senang ‘main api’. Saat saya baru melahirkan, ia akrab dengan teman sekantornya, Y. Saya tahu hubungan mereka hanya sebatas teman curhat. Untunglah, akhirnya Y pindah kantor, lalu menikah.

Tahun 2005, suami dekat lagi dengan M. Saya bicarakan baik-baik soal M, dan alhamdulillah saya masih bisa mengontrol emosi. Ada bukti SMS dan telepon. Suami mengaku M yang mengejarnya. Katanya, sudah lama mereka saling menjauh karena menyadari hubungannya sudah membahayakan keluarga masing-masing.

Yang menyakitkan, suami bilang, perilaku itu sudah biasa di dunia broadcasting. Meski hati hancur, saya berusaha tenang. Saat itu ia berjanji tak lagi berhubungan dengan M, tapi ternyata masih saling kontak.

Akhirnya kesabaran saya habis dan saya meneror M. Sepertinya M mengadu ke suami. Akhirnya mereka ribut dan renggang, dan tak lama M dipindahkan ke gedung lain.

Saya agak tenang sejak saat itu Bu, meski kepercayaan terhadap suami berkurang. Pada 2008, suami mulai main facebook. Suatu hari saya pergoki ia chatting dengan D, mantan pacarnya. Bahkan mereka saling mengucap “I Love U”. Orang waras saja tahu, itu tak wajar untuk hubungan yang hanya sebatas teman.

Halaman itu lalu saya print dan diperlihatkan ke suami. Ia hanya tertawa kecil dan bilang, itu hanya korespondensi biasa dengan teman. Saya marah sekali. Dua minggu setelah peristiwa itu, saya pergoki mereka chatting lagi.

Bu, saya kecewa, marah, sedih, kalut, semua campur aduk. Kepercayaan saya kepada suami sudah sampai di titik nadir. Capek, Bu. Saya tak takut berpisah dengan suami, tapi apakah ini jalan terbaik? Saya memikirkan nasib anak, tapi saya juga harus memikirkan kondisi kejiwaan saya, kan?

Saya jadi ingat ketika workshop, Ibu mengatakan, perilaku suami saya sudah kronis. Lalu, apa yang mesti saya lakukan? Terimakasih sebelumnya.

Talia - Jakarta

Dear Talia,
Bukankah kita sudah berikrar tetap menjalin hubungan dengan sesama peserta workshop Klub NOVA saat itu? Konsekuen dong saya, apalagi suami ternyata belum sembuh juga dari penyakit kronisnya.

Bila dicermati, sebenarnya ada ketimpangan yang makin lama makin melebar dalam diri Anda dan suami. Ketika Anda berkembang menjadi sosok istri dan ibu yang makin matang dalam menjalani perkawinan, suami tetap saja berada dalam kondisi kepribadian seperti saat belum menikah dulu.

Menikmati ketergantungan perempuan pada dirinya, mau mengorbankan waktu untuk orang lain ketimbang bersama anak dan istrinya, dan yang pastinya menyakitkan Anda, untuk semua perilaku yang sudah membuat Anda sakit hati itu ia menganggapnya hal yang biasa dilakukan oleh pekerja kreatif di bidang pertelevisian.

Berita baiknya, saya berani mengatakan, para perempuan itu pasti tak diniatkannya untuk menjadi pengganti Anda. Karena ia memang cuma punya nyali untuk melakukan romantisme cyber, di dunia maya saja. Kepuasan berlama-lama chatting itu diperoleh karena ia merasa didengarkan, dibutuhkan nasehatnya, dan juga karena memang ia pendengar yang baik.

Bukti lainnya? Tak ada upaya untuk bertemu, melakukan kontak fisik lebih jauh yang biasanya merupakan tahap lanjut dari perselingkuhan. Apakah yang dilakukan suami ini perselingkuhan? Menurut saya iya, karena ia berupaya untuk berhubungan dengan perempuan itu, sembunyi dari Anda, dan pastinya merasa nyaman melakukannya!

Anda tak sendirian, Jeng Talia. Banyak suami-suami yang “casing”nya saja dewasa, tapi sebenarnya isinya anak laki-laki (boys) yang tak pernah menjadi dewasa dan bisa menjawab tuntutan perannya dalam perkawinan, sebagai suami maupun ayah yang bertanggung jawab.

Yang ada pada suami Anda? Ia tak terganggu tetap tinggal di Pondok Mertua Indah, pekerjaan juga bukan wahana pengembangan diri, seperti kata Anda, teman-temannya sudah lama mencari peluang yang lebih baik dan keluar, dia mah nyaman saja dan menikmati promosi yang amat lamban. Baginya, hal-hal di luar arah minatnya bukanlah sesuatu yang ia pikirkan benar, termasuk juga bagaimana perasaan istrinya terhadap sepak terjangnya.

Dengan sedih harus saya katakan, pria yang punya kedekatan khusus dengan ibunya, biasanya memang akan jadi mama’s boy. Biasanya ia tumbuh dengan ibu sebagai single parent, atau ibu sebagai motor utama keluarga karena ayah kurang kompetensinya untuk jadi kepala keluarga. Para ibu ini memang tangguh, pandai cari uang, melindungi anak-anaknya seperti burung elang, dengan perkasa sekaligus penuh kasih sayang.

Jadi, keputusannya menikahi Anda pastilah dilandasi keyakinannya, somehow, Anda akan seperti ibunya. Tak menjadi istri yang penuntut, oke saja bila penghasilannya tak melimpah, banyak maaf, punya kesibukan sendiri, dan dalam segala hal, lebih dewasa dibanding dirinya.

Bila ia punya kemampuan untuk membuat perempuan merasa nyaman dengan dirinya, memang ia adalah penikmat hubungan, sehingga mau tak mau ia harus punya kemampuan mendengarkan.

Tetapi, bukan untuk mendengarkan istrinya. Biasanya tipe seperti suami Anda memang tak melangkah lebih jauh, karena ia tak mau mempersulit dirinya dengan hubungan permanen, seperti menikah lagi atau menikah di bawah tangan.

Di sini bedanya penyelingkuh seperti suami, dengan mereka yang niat benar untuk “menukar” istrinya dengan perempuan lain. Yang ini biasanya lalu bertemu, mulai membelikan ini dan itu, atau jika perempuannya yang lebih berduit, mulai dihujani hadiah, dan akhirnya mengikatkan diri.

Tentu saja, saya tak hendak mengatakan, ya sudahlah, wong tidak akan kawin. Karena, tergantung perempuannya juga. Jika agresif terus, bagaimana? Lalu, seperti kata Anda, kepercayaan Anda kepada suami, bahan dasar atau fundamen dari kokohnya perkawinan, sudah menurun ke titik terendah.

Jeng Talia, saya tak mau berbohong kepada Anda bahwa Anda punya problem yang berat. Tapi jika Anda yakin perkawinan ini berharga untuk dipertahankan, tak ada pekerjaan berat, bukan?

Yang pertama harus Anda gol-kan, keyakinan di dalam benak suami, ia adalah kepala keluarga, yang sangat Anda harapkan bisa menjadi pelindung Anda dan anak. Maka, untuk menjadi keluarga tangguh, keluarga ini harus punya rumah terpisah dengan orang tua.

Berpisah dari orang tua akan membuat Anda punya kebutuhan untuk mengatakan padanya: ”Jangan lama-lama di kantor, Pa, aku kan cuma berdua dengan si buyung.” Anda dan dia bisa menentukan bersama, bagaimana warna kamar tidur, jenis sofa kamar tamu, dan tetek bengek lain yang terkait dengan istana Anda berdua.

Banyak lagi harus-harus lainnya, yang pelan tapi pasti akan memicu tumbuhnya perasaan tangung jawab sebagai kepala keluarga. Selama ini, hidup sudah nyaman sekali untuknya, sebab berapapun uang yang ia beri ke Anda, toh Anda dan anak tak kelaparan.

Kan, ada mertua? Istri tak apa-apa ditinggal menginap atau pulang malam. Kan aman di rumah mertua? Awalnya, ia pasti merasa dipaksa untuk mandiri dan memikul tanggung jawab, tapi dengan memberinya apresiasi dan rasa hormat atas upayanya, sering memuji dan meyakinkan dia, Anda bahagia karena akhirnya hidup bertiga saja, kebanggaan diri, self pride-nya tumbuh, Jeng, dengan cara sehat. Bukan dengan cara punya cinta maya itu.

Lalu, Anda sendiri, mulailah punya kesibukan untuk menambah keuangan keluarga. Kerja formal mungkin sudah susah, karena Anda sudah cukup lama meninggalkan dunia kerja. Tapi, Anda kan, smart dan punya koneksi luas di level yang cukup tinggi.

Sekarang banyak sekali peluang kerja paruh waktu, atau by project based. Dikerjakan di rumah atau datang 2-3 kali seminggu, yang penting jangan berharap ada pangkat atau gaji tetap. Saya yakin Anda punya peluang untuk ini. Bila tidak, coba peluang wiraswasta. Gali kreativitas Anda, lihat kursus apa yang bisa Anda ambil untuk keterampilan yang kelak bisa jadi uang atau celah apa yang bisa dijual online.

Tetapi, bila Anda tak merasakan manfaat dari kelanjutan perkawinan ini karena sudah lelah dengan penyakit kronis suami, pastikan sebelumnya Anda sudah mengajaknya berdiskusi. Sampaikan perasaan Anda dan rencana untuk mengakhiri semua ini.

Jangan sekali-sekali mengambangkan masalah, karena ini hanya akan membuat Anda jatuh-bangun oleh ulah suami. Terlalu lama begini akan meruntuhkan harga diri, Sayangku, dan saya tak rela bila perempuan secantik dan sepandai Anda, mengalami ini hanya karena tak berani mengambil keputusan!

Oke, kuat ya, Dear? It is your own life, jadi Andalah yang harus jadi penentu utama, mau Anda kemanakan masa depan dan kebahagiaan Anda dan anak semata wayang Anda. Salam sayang.

sumber KLIK DiSiNi

+ Add Your Comment

Tinggalkan komentar,kritik dan saran untuk membangun site ini menjadi lebih baik.
[No]Sara! [No]Porn! [No]Bad Words!
PS-Crew akan memantau dan menghapus commet yang tidak layak [Thanks!]

Profil

My Photo
Putra
Ya inilah saya.. masih belajar tentang blog dan posting, jadi kalau ada yang kurang dalam blog saya mohon untuk dikasih masukan.. Jadi saya harap kepada teman semua jangan sungkan-sungkan untuk memberikan komentar di setiap postingan saya ya.. Terimakasih
View my complete profile